|
Senin, 01 September 2008 |
|
Kisah ini nyata dan dialami oleh sahabat saya, Pak Willy Roswaldi, ketika beliau dan beberapa orang tinggal di Australia (Melbourne) untuk kursus/training. Beliau ini dikenal hobby kuliner serta memasak. Di Aussie beliau dan teman-temannya menyewa apartemen . Karena hobby kuliner dan masak, beliau mencoba mencari bahan-bahan untuk dimasak, seperti daging, bumbu-bumbu dan lain-lain, di Pasar dekat apartemen. Setelah mendapatkan hampir semua bahan yang diperlukan, beliau menuju ke toko daging.
Daging yang dijual di toko itu (sebagaimana di Negara-negara maju lainnya) adalah daging yang nomer 1 dan tidak dijual jeroan, kikil/kaki, kepala bahkan leher, kalaupun dijual, ya.. bukan untuk makanan manusia, tapi untuk makanan anjing atau kucing!. Daging yang bagus (untuk dijual sebagai bahan makanan manusia) di letakkan terpisah dengan daging yang bukan untuk manusia (dan juga diberi harga dengan tulisan di papan tulis yang khas) dan tentunya juga harga kedua kelompok daging itu juga sangat jauh berbeda.
Kisah berlanjut, ketika melihat harga daging leher (daging yang menempel di tulang leher) yang sangat murah. Maka beliau tidak ragu-ragu mengambil kantung plastik yang tersedia dan dimasukkan daging leher sapi tersebut ke kantong. Karena harganya murah, beliau membeli lumayan banyak. Setelah dipikir, bahwa daging tersebut cukup untuk makan seluruh anggota team yang sedang training, beliau menyerahkannya kepada si penjual untuk ditimbang, dan penjual daging bertanya : “ Do you have many dogs? “ , Sahabat saya tadi kaget dengan pertanyaan itu, tapi dari pada malu, beliau menjawab: “Plenty ! “ (banyak). Dan ketika sampai di apartemen, beliau menyampaikan kejadian ini sambil minta maaf, tapi justru disambut dengan gerr ger an oleh kawan yang lain.
Australia, salah satu Negara dimana Indonesia meng-impor daging sapi, adalah Negara dimana penduduknya boleh dikatakan sangat selektif memilih daging, bahkan mereka meng ‘haram’ kan jeroan, usus, kepala, kikil/kaki dan kepala serta leher (bagi yang non muslim, ini berlaku untuk semua daging yang dikonsumsi termasuk babi).
Kita yang orang Indonesia dan juga orang Islam juga harus memilih jenis makanan/minuman yang diperbolehkan sebagaimana batasan dan kriteria yang sesuai dengan ajaran Agama Islam, atau dengan kata lain, tidak semuanya bisa dimakan, karena memang ada larangan dari ketentuan agama. Bahkan bila agama yang memerintahkan, yang halal pun jadi haram, contoh: haram hukumnya makan makanan halal di siang hari bagi yang berpuasa.
Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dari ketentuan Allah swt berlakukan kepada kita, dan tidak ada yang sia-sia apa yang diciptakan oleh Allah swt. Selamat berpuasa, semoga Allah meridlai amal kita, amin ya rabbal alamin. (Gus Arifin)
|
|
|
Senin, 18 Agustus 2008 |
|
Syaikh Ibn Athaillah menyampaikan dalam Kitab Al Hikam nya : مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوُجْداَنِهاَ عَرَفَهاَ بِوُجُودِ فُقْدَانِهاَ
Siapa yang tidak mengetahui nilai nikmat ketika memperolehnya, ia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut sudah lepas darinya
Kita sering kali tidak pernah memperhatikan nikmat yang sedang kita rasakan bahkan tidak tahu bahwa itu adalah nikmat-nikmat besar yang sedang kita nikmati. Contoh, Sehat, Kaya (cukup harta), Sempat (kesempatan), Mau (kemauan) dan nikmat-nikmat lainnya. Sehat itu sangat berarti bagi kita dan kita rasakan nikmatnya ketika kita sakit, Kekayaan kita akan kita rasakan keberadaanya ketika kita miskin, Kesempatan itu sangat berharga bagi kita justru ketika kita mengalami kesempitan dan kemauan,juga akan begitu berarti ketika kita tidak ada kemauan lagi. Dan hendaknya diingat: Allah akan menggiring kita untuk mendekat kepadaNYA, bila kita terus dapat mendekat/taqarrub kepadaNYA ketika dalam keadaan sehat, kaya, sempat dan dalam keadaan mau untuk mendekat..Insya Allah kita akan diberi lebih lagi dari itu. Akan tetapi bila ketika dalam keadaan sehat, kaya dan mempunyai kesempatan untuk berbuat baik..malah kita menjauh dari Allah swt, shalatnya (kadang-kadang), malas untuk ngaji/ta'lim, ada kesempatan untuk menolong orang tapi tidak diambil kesempatan itu, maka jangan kaget Allah akan menyeret kita mendekat kepadaNya dengan caraNya, misalnya diberi miskin (supaya ingat Allah), diberi sakit (supaya mendekat kepadaNya) diberi kesempitan, kesulitan dan lain-lain supaya kita disuruh lari mendekat kepadaNya.
Pilihan ada pada Anda, Lakukan yang terbaik untukNya ketika kita kaya, sehat, sempat... atau mununggu ditegur dengan yang sebaliknya ; miskin, sakit dan sempit/sulit supaya kita mendekat kepadanya lagi. Jangan sia-siakan apa yang ada sekarang untuk berbuat yang lebih baik, Insya Allah (gus arifin) |
|
|
Selasa, 12 Agustus 2008 |
|
Ini cerita dari Pak Hidayatul Aziz, jamaah pengajian Bulughul Maram di Mushallah A Rafiq –Cendana Loka Graha Raya Bintaro Jaya.
Beliau mempunyai seorang teman yang hobby naik sepeda atau bike to work !. Sang teman ini seorang eksekutif. Pada saat hari terik panas sang eksekutif ini mengayuh sepeda di jalanan ibukota Jakarta, karena haus, ia berhenti di pinggir jalan yang rindang dan ada penjual es di situ. Pak Eksekutif ini membeli minum pada tukang es tersebut dan tanpa disangka tukang es berkata : " Pak saya do'akan bapak bisa membeli motor, biar nggak capek naik sepeda !". Sang eksekutif ini bingung campur ketawa, dan menimpali doa pedagang tadi dengan berkata : " ya pak amin, terima kasih do'anya."
Apa sebenarnya yang diucapkan oleh pedagang es tadi jelas tulus tidak ada maksud 'ngledek" atau menghina orang yang naik sepeda tadi. Padahal, kalau pedagang es tadi seandainya tahu bahwa orang yang di do'akan tadi orang kaya, punya rumah mewah, mobil bagus harta melimpah, tentu tidak akan berdo'a " semoga bapak bisa beli motor" !!
Mengapa pedagang tadi berdo'a seperti itu? Karena pedagang es tadi beranggapan bahwa orang yang naik sepeda tadi adalah seperti dirinya, sama-sama naik sepeda ketika bekerja, sama-sama susah. Si pedagang es merasa dirinya lebih "beruntung" ketimbang eksekutif tadi. Dan karena merasa labih beruntung, ketika melihat "penderitaan" orang lain (meskipun pak eksekutif tadi memang niat untuk ber-bike to work) maka tukang es tadi berdoa untuk supaya orang lain menjadi lebih baik.
Hikmah pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah merasa telah dicukupi oleh Allah swt atas segala yang ada itu bisa mendorong seseorang kepada perbuatan lain yang baik dengan tulus ikhlas. Ya ..merasa cukup (dalam kaitan dengan harta), dalam bahasa agama disebut qana'ah. Sifat qana'ah ini adalah modal dasar bagi seorang hamba untuk menjadi hamba yang bersyukur, hamba yang menyadari kekurangan kekurangan yang ada itu sebagai karunia Allah swt untuk terus berikhtiar menjadi yang lebih baik, baik saat sekarang maupun yang akan datang, di dunia maupun di akhirat. (gus arifin)
|
|
|
Sabtu, 09 Agustus 2008 |
Syaikh Ibn Atha’illah mengatakan : مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَلَّبِ فَعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَكَ Ketika Allah melonggarkan lisan/lidah kita untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Dia hendak memberimu
Ibn Atha'illah mengajarkan kepada kita, selama lidah dan lisan kita mau meminta/berdo'a berarti selama itu pula Allah memberikan apa yang kita minta dan bahkan lebih dari itu !!
Tapi mesti diingat juga bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang tidak kita ketahui !!, jadi Allah Maha Tahu, kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan do'a kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang tidak pernah berhenti berdo'a, Amin Ya Rabbal Alamin (gus arifin) |
|
|