Selamat Datang di "Griya Sehat Barokah" Menuju Hidup Sehat dan Berkah

 Social Display

     

Mengenali diri untuk mengenal Allah SWT

Share this post
FaceBook  Twitter  Mixx.mn     
وَقَدْ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : { يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَتَى يَعْرِفُ الْإِنْسَانُ رَبَّهُ ؟ قَالَ : إذَا عَرَفَ نَفْسَهُ } .


Sungguh A’isyah r.anha pernah berakata: “ Ya Rasulallah, bagaimana seseorang menganali Tuhannya? Nabi saw menjawab : “ Bila dia telah mengenal dirinya”.

Mengapa kita harus mengenali diri kita sendiri sebagai jalan untuk mengenal Allah SWT?

Untuk meng-illustrasi kan model jawabannya, mari kita simak kisah berikut :
Suatu saat seorang santri, menghadap kyainya untuk complain mengenai dirinya yang sering “dihukum” dengan cara menghafal sekian puluh ayat-ayat/Surat Al Qur’an dan sekian puluh hadits. Pada saat yang bersamaan di luar pesantren ada anak seumur santri tadi sedang asyik nongkrong di mall sambil ngobrol kosong sana-sini sambil merokok !. Dua anak pelajar ini pada saat yang bersamaan mempunyai kesibukan yang berbeda dan sekilas orang awwam seperti kita akan mengatakan bahwa anak yang di pesantren tadi lebih kenal kepada Allah rabbul alamin dibandingkan dengan pelajar yang nongkron tadi.

Akan tetapi penilaian sesaat tadi bisa berbalik, jikalau syarat kondisi dipenuhi oleh pelajar yang “okem” tadi. Apa syarat dan kondisi yang harus dipenuhi : 1. adanya hidayah Allah 2. dia merasakan petunjuk itu sebagai anugrah, maka kondisi berikutnya yang harus dipenuhi adalah : 1. dia menyadari kesalahan dan kekeliruannya selama ini 2. dia berusaha mencari tahu dalam bahasa disebut mencari ilmunya.

Hasilnya, pelajar yang pertama, menganggap bahwa selama di pesantren dia tidak merasakan “nikmat” yang Allah berikan melalui: 1. Orang tuanya yang sudah me-mondok-kan dia di pesantren tersebut 2. Ustadz /kyainya juga tidak pernah ” menghukum” dengan hukuman fisik 3. Lingkugan pondok yang boleh dikatakan ‘isinya’ hal-hal baik semua. Dengan kondisi : pelajar ini menganggap system di pesantrennya nggak benar, terlalu ketat dan sebagainya dan sebagainya sehingga mengganggap perbuatannya benar sedang orang lain termasuk kyainya salah ditambah lagi dia merasa punya ‘ilmu’ agama yang cukup dibandingkan orang lain.Maka lama-lama menjadi orang yang menganggap dirinya paling benar.

Sementara pelajar yang kedua, ketika dia mendapat hidayah dari Allah, dia merasakan bahwa dirinya sedang ditegur oleh Sang Pemilik Alam semesta maka langkah penting ia lakukan dengan berusaha mencari tahu, mencari ilmu untuk menjadi lebih baik dan mau merubah dirinya sendiri.

Memang dengan menghitung-hitung kesalahan dan dosa kita sendiri, dengan melihat-lihat kekurangan dan kelemahan kita sendiri, dengan menyadari bahwa banyak hal yang belum kita ketahui, maka “diri” kita yang kita kenali seperti itu akan membawa kita kepada ‘mengenal” Allah dengan lebih jelas. Kalau kita sadar bahwa kesalahan dan dosa kita banyak pasti kita akan minta maaf kepadaNya, kalau banyak kekurangan dan kelemahan tentu kita akan memperbaikinya, kalau kita tidak tahu maka kita berusaha mencari tahu dengan berbagai upaya.

Oleh karena itu Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin mengutip pendapat Syaikh Khalil bin Ahmad, dimana beliau membagi orang menjadi 4 kelompok :

وَقَدْ قَسَّمَ الْخَلِيلُ بْنُ أَحْمَدَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِيمَا عَلِمُوهُ أَوْ جَهِلُوهُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ مُتَقَابِلَةٍ لَا يَخْلُو الْإِنْسَانُ مِنْهَا فَقَالَ : الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ :(1) رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ عَالِمٌ فَاسْأَلُوهُ ، (2)وَرَجُلٌ يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ نَائِمٌ فَذَكِّرُوهُ ، (3)وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ ، (4) وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَارْفُضُوهُ .

1. Orang yang tahu dan dia tahu (sadar) bahwa dia orang yang tahu , disebut Alim (isim fa’il, yang artinya orang yang berilmu)
2. Orang yang tahu tapi dia tidak tahu atau tidak menyadari bahwa dia itu sebenarnya tahu / berilmu, atau dengan kata lain : “punya ilmu tapi tidak digunakan /diamalkan”, disebut orang “tidur” atau lupa, maka ingatkan dia
3. Orang yang tidak tahu tapi dia sadar bahwa dia tidak tahu, maka hendaklah mencari tahu dan bagi yang Alim memberi tahu/mengajari dia,
4. Orang yang tidak tahu tapi tidak menyadari bahwa dia itu tidak tahu, disebut orang Jahil/bodoh maka “jauhi” dia.

Sebaiknya kita menjadi orang di kelompok 1, kalau pun di kelompok 3 masih lebih baik, jangan kita menjadi kelompok ke 2 (dimana ilmunya “idle” tidak berguna bahkan terhadap dirinya sendiri), apalagi menjadi kelompok 4.. naudzu billah . Sudah tidak tahu/bodoh, malah merasa paling tahu dan kalau diberi tahu malah sok tahu.(gus arifin/ketua dewan syuro agus arifin institute)


 

Telah beredar buku "Tuntunan Doa Ibadah Haji dan Umrah" Buku Ke 26 Penulis Buku Best Seller -Gus Arifin- dapatkan di toko buku Gramedia.

Latest Article

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Link Group

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday37
mod_vvisit_counterYesterday107
mod_vvisit_counterThis week144
mod_vvisit_counterLast week1046
mod_vvisit_counterThis month2839
mod_vvisit_counterLast month4145
mod_vvisit_counterAll days151942

Online Now: 5
Today: April 23, 2018