Selamat Datang di "Griya Sehat Barokah" Menuju Hidup Sehat dan Berkah

 Social Display

     

Menyelesaikan masalah tanpa masalah

Share this post
FaceBook  Twitter  Mixx.mn     
Judul tulisan ini bukan iklan pegadaian lo !. Sekitar tahun 80 an ada keributan kecil antara dua orang adik dan kakak, sebutlah namanya Supa'i dan Supari. Pak Supa'i (ádalah guru bahasa arab dan Fiqh di sekolah Madrasah Ibtida'iyah dimana saya sekolah tingkat dasar) sedangkan Pak Supari guru juga tapi mengajar di Sekolah lain. Keributan kedua bersaudara ini mengenai soal boleh tidaknya makan kepiting (jauh sebelum Fatwah MUI mengenai halalnya 4 jenis Kepiting pada 15 Juli 2002M : a. Scylla serrata, b. Scylla tranquebarrica, c. Scylla olivacea, d. Scylla paramamosain.)

Keributan sudah mengarah kepada "perpecahan" keluarga, sehingga salah seorang dari mereka mengusulkan untuk mencari "fatwah" dari Kyai top di daerah Gresik/Mojokerto. Pilihan jatuh kepada KH A.Thayyib ( ingat kisah shalat subuh, di artikel sebelumnya). Maka berangkatlah mereka berdua, dan mereka tiba di Pondok Abah Thayyib sekitar Jam 9 an. Mereka disambut oleh seorang santri dan mempersilahkan masuk ke rung tamu, sambil berkata : " Abah masih di sawah !" 

Keduanya menunggu Kyai dengan harapan bahwa kejelasan hukum makan kepiting segera diketahui. Jam sudah menunjukkan jam 10 30 an, tapi Kyai belum juga datang dari sawah, maka kegelisahan mulai berkecamuk pada diri mereka berdua. Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu tiba, sambil menyalami dengan penuh hormat, Kyai Thayyib berkata : " Enteni dhisik ya !" (tunggu dulu ya). Keduanya belum sempat meyampaikan maksud kedatangan mereka, keburu kyai Thayyib sudah masuk ke dalam. " "Wah yo opo iki ?" (wah bagaimana ini?) kata Pak Supari. 

Kegelisahan semakin menjadi-jadi karena kyai belum juga muncul, sementara tidak lama lagi masuk waktu dhuhur. Tak lama kemudian, muncul santri yang membawa sebakul kecil nasi jagung, lauk bakwan jagung, sambel terasi dan yang membuat keduanya "surprise" adalah si santri juga membawa sayur asem kepiting. "Monggo pak di sekecak aken !" (silahkan dinikmati ) kata santri kepada mereka. Mereka saling berpandangan tanpa sepatah kata pun sambil mengambil piring, nasi jagung, lauk dan sambelnya, yang berbeda: Pak Supa'i tidak mengambil sayur asem kepiting sedang pak Supari mengambilnya. Tak lama kemudian Abah Thayyib menemui mereka sambil berucap:
"Wis beres toh?" ( sudah beres kan? ) sambil mempersilahkan mereka ke Masjid untuk Shalat dhuhur.

Ya..memang sudah selesai, bagi KH A Thayyib yang mempunyai ilmu membaca yang tidak nampak, memutuskan masalah fiqh ini harus dengan praktek. Dan memang saat itu hukum makan kepiting ada 2 madzhab yang berbeda, Maliki menghalalkan sedangkan Syafi'i mengharamkan. Jadi bagi yang menghalalkan, kalau memang tahu dalil hukumnya ya silahkan dimakan dan bagi yang mengharamkan karena memang tahu dalilnya ya jangan dimakan. (gus arifin)

 



 

Telah beredar buku "Tuntunan Doa Ibadah Haji dan Umrah" Buku Ke 26 Penulis Buku Best Seller -Gus Arifin- dapatkan di toko buku Gramedia.

Latest Article

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Link Group

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday87
mod_vvisit_counterYesterday159
mod_vvisit_counterThis week510
mod_vvisit_counterLast week1058
mod_vvisit_counterThis month2175
mod_vvisit_counterLast month4947
mod_vvisit_counterAll days167712

Online Now: 3
Today: July 18, 2018